Viral  

Review Film Apollo 10 1/2 (2022): Antara Perspektif dan Kenangan

Film Apollo 10 1/2: A Space Age Childhood adalah karya terbaru dari sutradara beken Richard Linklater. Seakan mempertontonkan masa kecilnya, film ini menggambarkan dengan terang bagaimana perspektif menghipnotis kenangan menggunakan animasi rotoscope berlatar akhir 60-an.

Sinopsis Film Apollo 10 1/2

Film ini berlatar pada trend semi 1969, beberapa bulan sebelum penjelajahan bulan Apollo 11 dimulai. Dinarasikan oleh Stanley dewasa (Jack Black), menceritakan perihal perjalanannya saat kecil (Milo Coy) sebagai astronot.

Stanley di film Apollo 10½
via Netflix

Saat berada di kelas 4, dua orang ilmuwan NASA, Kranz (Zachary Levi) dan Bostick (Glen Powell) mendekatinya untuk sebuah misi rahasia. Mereka mengungkapkan bahwa NASA salah perhitungan dalam membuat sebuah modul Apollo yang terlalu kecil, sehingga hanya anak kecil yang mampu mengendarainya.

Ia lalu mulai menjalani latihan bersama NASA. Sampai pada akhirnya Apollo 11 yang membawa Neil Armstrong mendarat di bulan. Tapi terlepas dari itu, sang narator mulai menceritakan apa yang terjadi selama masa kecilnya.

Dipelintir dari awal

Kalau kau beranggapan bahwa film ini akan menjelaskan perihal perjalanan Stanley bersama NASA dalam sebuah misi ke bulan, maka kau akan terkecoh. Plot dan keseluruhan cerita jauh berbeda dengan apa yang diberikan oleh trailer. Sebuah plot twist yang menyenangkan.

Menit-menit pertama film ini menabrakkan banyak sekali genre, mulai dari drama remaja, fiksi ilmiah, hingga sejarah. Termasuk cerita yang terbilang absurd: seorang anak kecil didatangi sebab NASA salah prediksi dalam membuat sebuah modul ulang alik?

Plot awal film ini menggambarkan Stanley hingga dengan pertemuannya dengan Kranz dan Bostick. Tapi setelah itu, lebih dari setengah film ini menceritakan perihal keseharian Stanley yang tumbuh di pinggiran kota Houston, kota di mana Sentra Luar Angkasa NASA berada.

Baca Juga :  Simak Bocoran Harga Dan Spesifikasi Vivo T1 Pro 5G
Stanley dalam film Apollo 10½
via Netflix

Menjadi yang terkecil dari enam bersaudara, ia tinggal bersama ibunya dan sang ayah yang bekerja mempersiapkan perlengkapan ATK untuk acara luar angkasa NASA. Kala itu, segala yang terjadi di Houston memang kebanyakan berafiliasi dengan NASA.

Film ini dibuat lebih sinematik dan mementingkan narasi secara emosional dan tematis yang sangat mendominasi. Bahkan membuat bertanya-tanya apa yang terjadi ketika pelatihannya dengan NASA. Mengedepankan perasaan dan kenangan Stanley dalam kehidupannya di tahun 1969.

Ketimbang menjelaskan perihal perjalanan Stanley dalam misinya ke bulan, Linklater fokus pada hal-hal kecil yang lebih membumi. Ia mempertontonkan rutinitas sehari-hari, pertengkaran dengan kelima saudaranya, atau saling berebut stasiun televisi yang ingin ditonton.

Fantasi dalam memori

Ini bukan kali pertama Linklater membuat film dengan animasi hyperrealism dalam gaya rotoscope. Gaya yang sama ia gunakan dalam film Waking Life (2001) bersama Ethan Hawke serta film A Scanner Darkly (2006) yang dibintangi Keanu Reeves dan Robert Downey Jr.

Tapi kalau dibandingkan dengan kedua film sebelumnya, Apollo 10 1/2 terasa lebih terang dan berwarna. Menghidupkan kembali memori masa kecil dan menonjolkan fantasi ke dalam realita yang tersimpan dalam kenangannya.

Stanley dan kakaknya
via Netflix

*siap-siap untuk spoiler*

Film ini tak hanya merusak ekspektasi penonton yang sudah melihat trailer, tapi juga keseluruhan cerita dengan plot twist yang menarik di akhir cerita. Mempertanyakan apakah semua yang diceritakan oleh Stanley adalah bagian dari kenyataan dan petualangannya atau hanya kenangan palsu semata.

Ini dimulai saat Stanley setengah tertidur pada ketika televisi menayangkan pendaratan di bulan, Sang ayah menanyakan apakah ia benar-benar menyaksikan tayangan tersebut. Tapi,

“Kau tahu bagaimana ingatan bekerja. Bahkan kalau ia tertidur, suatu hari dia akan berpikir bahwa ia melihat semuanya.”

Sang ibu menjelaskan.

Pada momen ini Linklater mengungkapkan poin penting dalam kisah ini; bahwa ingatan kita berubah seiring waktu. Menciptakan fantasi mengenai kenyataan yang terjadi serta bagaimana pikiran kita menyesuaikan persepsi perihal kejadian tersebut.

keluarga Stanley di film Apollo 10½
via Netflix

Tommy Pallotta sebagai pimpinan animasi menggunakan motion-capture untuk mengabadikan gerakan asli dari para aktor. Mereka dijadikan animasi untuk menangkap wajah dan gestur untuk membentuk dunia animasinya.

Bahkan Linklater menggunakan animasi untuk mempertajam poin atas memori Stanley. Di satu sisi animasi terasa pudar, tapi di bagian lagi dibuat jelas dan fokus menandai hal-hal yang berkesan olehnya. Dan pada akhirnya, semua film ini adalah ingatan Stanley.

Nostalgia 60-an

Bagi yang belum tahu, Richard Linklater memang seorang ahli nostalgia. Mirip Boyhood (2014) atau Everybody Wants Some!! (2016), ia menghadirkan nuansa keseharian dan membawa penonton ke era tertentu. Tak terkecuali Apollo 10 1/2.

Mampu dibilang film ini adalah bagian dari semi-otobiografi mengenai masa kecil Linklater sendiri. Besar di era 60-an yang erat kaitannya dengan berkembangnya budaya populer mirip film dan musik, ada banyak referensi mengenai acara televisi hingga band kesukaannya dan kakak-kakaknya.

keluarga Stanley menonton TV
via Netflix

Di sisi lain, Linklater tak melupakan kontroversi yang terjadi dalam peristiwa penting yang menyelimuti hiruk pikuk pijakan kaki legendaris Neil Armstrong. Kecemasan yang terjadi di dunia, yang akan terjadi perang, tumpukan sampah, global warming, berita ras dan Black Power, serta pembunuhan JFK disamarkan dengan pendaratan ke bulan dan film fiksi ilmiah.

Stanley yang besar saat Houston mulai dibangun sebagai markas besar NASA, hanya memikirkan apa yang terjadi di sekelilingnya. Mengungkapkan bagaimana Stanley yang tumbuh berkembang di keluarga kelas menengah tak memiliki ketakutan apa pun selain ketinggalan serial TV yang ditunggu-tunggunya.

Durasi 90 menit memang pas. Tak begitu panjang mengingat Linktater ialah pencerita ulung yang memapah penonton memasuki kehidupan Stanley. Nir pula begitu pendek dan membuat penonton merasa durasi sangat cepat berakhir.

nostalgia tahun 60-an
via Netflix

Film Apollo 10 1/2 adalah satu diantara sedikit film Hollywood yang personal dan menyenangkan untuk dinikmati. Meski tidak semua penonton mampu relate dengan nostalgia, dibanding film berlatar 80-an atau 90-an. Tapi kekuatannya terlihat pada keharmonisan kepenulisan dan plot, visual, serta latar nostalgia Linklater di akhir 60-an.

Aliran: Animasi, Drama

Pengarah adegan: Richard Linklater

Penulis Naskah: Richard Linklater

Pengisi Bunyi: Jack Black, Zachary Levi, Glen Powell,

Rekomendasi Film Terbaik

8/10

Summary

Film Apollo 10 1/2 adalah satu diantara sedikit film Hollywood yang personal dan menyenangkan untuk dinikmati. Meski tidak semua penonton mampu relate dengan nostalgia, dibanding film berlatar 80-an atau 90-an. Tapi kekuatannya terlihat pada keharmonisan kepenulisan dan plot, visual, serta latar nostalgia Linklater di akhir 60-an.