Komik  

√ Review Film The Doll 3 (2022)

“The Doll 3” menjadi penutup trilogi “The Doll” dari Rocky Soraya dan Hitmaker Studios.

Aku sendiri galau kenapa disebut sebagai trilogi sebab nyatanya ada “Sabrina” yang nyempil di antara “The Doll 2” dan “The Doll 3” ini.

Kabarnya, ini adalah salah satu film Indonesia dengan biaya produksi termahal sebab menggunakan peralatan dan properti yang didatangkan eksklusif dari Amerika Perkumpulan.

Selain itu, film yang masih menghadirkan karakter bu Laras dan pak Raynard ini menggunakan teknologi animatronik untuk boneka. Sama mirip yang ada di franchise film “Child’s Play”. Yang pertama di Indonesia.

Lantas mirip apakah ceritanya? Layakkah untuk ditonton?

Simak yuk sinopsis beserta review singkat dari film The Doll 3 di bawah ini.

Sekilas Perihal

poster film the doll 3

poster film the doll 3

Setelah kecelakaan yang menewaskan kedua orang tua Tara, Tara kini hanya memiliki seorang saudara termuda laki-laki bernama Gian sebagai anggota keluarganya. Namun, kecelakaan itu membuat Gian stress berat, sehingga Gian memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Lepas Rilis: 26 Mei 2022
Durasi: 1 jam 55 menit
Pengarah adegan: Rocky Soraya
Produser: Rocky Soraya
Penulis Naskah: Riheam Junianti
Produksi: Hitmaker Studios
Pemain: Jessica Mila, Winky Wiryawan, Masayu Anastasia, Montserrat Gizelle, Zizie Zidane, Sara Wijayanto, Jeremy Thomas, Miranty Dewi

Sinopsis Film / Alur Cerita

WARNING! Goresan pena di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Silahkan eksklusif SKIP ke bagian Review Film kalau ingin membaca ulasan tanpa spoiler

Semenjak kedua orangtuanya mengalami kecelakaan, Tara (diperankan oleh Jessica Mila) tinggal bersama adiknya, Gian (diperankan oleh Zizie Zidane).

Gian yang turut mengalami kecelakaan menjadi stress berat dan merasa takut kehilangan lagi orang yang ia sayang.

Tak lama setelah Tara dilamar oleh Aryan (diperankan oleh Winky Wiryawan), Gian bunuh diri. Hal itu membuat Tara sangat terpukul.


2 bulan sejak kematian Gian, Tara masih belum mampu move on. Ia terus mencari cara untuk mampu bertemu kembali dengan adiknya.

Sampai kemudian ia meminta bantuan seorang dukun untuk memasukkan arwah Gian ke dalam boneka interaktif bernama Bobby.

Cara tersebut ternyata berhasil. Melalui Bobby, Tara mampu berkomunikasi dengan Gian.

Persoalan mulai terjadi ketika Aryan meminta Tara untuk menginap di rumahnya dan menemani Mikha (diperankan oleh Montserrat Gizelle), putri Aryan dari pernikahannya sebelumnya.

Gian merasa cemburu dan berulangkali berusaha membunuh Aryan serta Mikha.

Tara akhirnya menceritakan hal itu pada Rere (diperankan oleh Masayu Anatasia), sahabatnya.

Kebetulan, sepupu Rere ialah salah satu klien dari bu Laras (diperankan oleh Sara Wijayanto), yang pernah dibantu dalam urusan boneka hantu.

Walau sempat memberitahu apa yang harus dilakukan oleh Tara, berdasarkan petunjuk dari bu Laras, Rere tewas dibunuh oleh Gian.

Begitu pula dengan dukun yang sebelumnya memasukkan arwah Gian ke dalam boneka Bobby.

Sebab Gian mengancam akan membunuh Aryan dan Mikha apabila Tara tidak meninggalkan mereka, Tara pun memilih untuk menuruti kata-kata Gian.


Aryan memberitahu Tara bahwa Gian sudah membunuh Rere.

Tara makin yakin bahwa suka tidak suka ia harus menyingkirkan Gian.

Setelah bersusah payah dan memakan lebih banyak korban, Tara pun berhasil melakukannya.

Ia melemparkan boneka Bobby ke dalam air dan otomatis membuatnya korslet dan hangus terbakar.

Sebelum itu, Gian sempat mengatakan bahwa ada hal lain yang membuatnya dendam terhadap Aryan dan Mikha. Petunjuknya ialah sebuah foto di kamar Aryan.

Tara mengecek foto yang dimaksud. Ia pun kaget mengetahui bahwa pelaku penabrakan terhadap kedua orangtuanya ialah Aryan.

Walau kemudian Tara mampu memaafkannya, namun ia memutuskan untuk berpisah dan memulai hidup yang baru tanpa Aryan dan juga Mikha.

Ulasan / Review Film The Doll 3

Boneka yang dimasuki setan atau setan yang berwujud boneka?

Itulah yang menjadi pertanyaan di sepanjang durasi penayangan film “The Doll 3” ini.

Pasalnya, berbagai momen dimana Bobby tidak lagi beraksi mirip layaknya ‘dirasuki’ hantu.

Dimana ia mampu berpindah kawasan dengan secepat kilat seolah dialah hantu yang sesungguhnya.

Hal semacam ini tidak terjadi pada ketiga film pendahulunya. Jika pun ada, masih dalam tahap mampu dimaklumi.

Bahkan dalam semesta “Child’s Play” yang menjadi ‘ilham’ seri “The Doll”, perpindahan boneka Chucky dari satu lokasi ke lokasi lain tetap mampu dinalar.

Plus diperkuat dengan diterbitkannya komik berjudul sama yang semakin memperjelas bagaimana boneka yang sama-sama dirasuki arwah tersebut mampu pergi dari satu lokasi ke lokasi lain.

Ad interim yang ditunjukkan dalam “The Doll 3” agak kurang meyakinkan.

Ngomong-ngomong soal semesta “Child’s Play”, beberapa adegan tidak mampu dipungkiri mengingatkan aku pada judul-judul dalam semesta tersebut.

Nir usah dijelaskan yang mana. Yang sudah pernah menonton absolut mampu menemukannya yang aku maksud kok.

Premis khas seri “The Doll” sendiri dipertahankan oleh Rocky Soraya.

Kecelakaan, kehilangan orang yang tersayang, gagal move on, dapat ilham dari teman, dan akhirnya cari cara untuk mampu kembali bersua dengan yang sudah tiada.

Yang menjadi pembeda tebal ialah peran bu Laras yang tidak lagi mayoritas. Kali ini hanya numpang lewat.

Sayangnya, hilangnya peran bu Laras secara aktif dalam cerita membuat ciri khas franchise “The Doll” juga ikut hilang.

Yaitu saat film dibuka dengan cerita pendek dan baru diungkapkan hubungannya dengan cerita utama di babak akhir.

Padahal bagi aku itu ialah yang membedakan serial ini dengan film-film horor Indonesia lainnya.

Adegan absurd? Tentu saja ada. Namanya juga berusaha untuk membangkitkan suasana tegang.

Salah satu triknya absolut ialah dengan menyelipkan tindakan udik dari karakter-karakter yang ada. Atau momen WTF.

Supaya yang nonton jadi gregetan dan terbawa emosi.

Well, setidaknya setelah menonton film “The Doll 3” ini aku tidak kepikiran lagi apabila berada dalam lift dan lift tersebut meluncur jatuh gegara talinya putus.

Paling cuma lecet doang.

Untuk aktingnya sendiri bagi aku tidak ada persoalan. Twist klise di ending, ditambah dengan pembawaan yang meyakinkan dari Jessica Mila dan Winky Wiryawan, mungkin bakal membuat sebagian orang meneteskan air mata.

Oh ya. Ada ucapan kata-kata KASAR di dalam dialog babak puncak. Bagi orangtua sebaiknya dipikirkan ulang untuk mengajak putra putrinya yang masih kecil untuk menonton “The Doll 3”.

Lagipula ratingnya juga 17 tahun ke atas sih.

Epilog

Dari awal franchise “The Doll” memang sudah identik dengan aksi bacok-bacokan antara insan versus boneka. Tak terkecuali “The Doll 3”.

Sayangnya, film ini terlihat berusaha keras untuk menyajikan hal itu sehingga melupakan banyak hal yang sebenarnya berpotensi membuat penonton ilfil.

Adanya adegan absurd dan inkonsistensi pertanda naskahnya kurang digarap dengan serius.

Sebuah penutup ‘trilogi’ yang tampil mengecewakan.

Ketika artikel ini ditayangkan, film “The Doll 3” ini mampu ditonton di seluruh jaringan bioskop XXI dan CGV.

Catatan: review serta rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi eksklusif

review film the doll 3

Review The Doll 3 2022
  • Story
  • Acting / Characters
  • Horror / Jump Scare
  • Recommended Watching

Summary

Epilog trilogi “The Doll” yang mengecewakan. Ada ciri khas yang dibuang walau sebagian besar dipertahankan. Poly momen absurd dan inkosistensi dalam cerita. Twist klise namun mengejutkan. Bukan sebab tidak disangka-sangka, namun sebab dari awal tidak ada petunjuk bahwa hal itu menjadi sebuah persoalan. Seandainya disebut di awal aku yakin kemungkinan besar tertebak. Aktingnya sendiri oke dan cukup meyakinkan.

Baca Juga :  Komik The Little Princess And Her Monster Prince Sub Indo